Hilangnya Kepercayaan

Dalam Pemilu 2019, kita sebagai orang awam tentunya akan sangat kebingungan melihat berbagai tayangan saling adu serang, mendukung Paslon mereka masing-masing. Alahasil masyarakat terbiasa disajikan sebuah berita booming, namun tidak mengetahui apakah berita tersebut merupakan berita fakta atau berita Hoaks.

Kini zaman mengalami kemajuan digital yang sangat pesat, internet menjadi sebuah dunia tanpa gerbang. Internet dapat dimasuki oleh siapa saja dan kapan saja. Hanya dengan modal segenggam gawai dan paket internet. Ada sebuah data bahwa di Indonesia terdapat 56% pengguna yang mengakses internet hanya untuk membuka Facebook. Lebih mirisnya lagi, 11% pengguna yang mengatakan bahwa ketika menggunakan Facebook, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang mengakses internet. Jumlah pengguna WhatsApp pun pada akhir 2017 sebesar 40% dari populasi Indonesia.
Tren penggunaan platform digital semakin meluas dengan didukung oleh penetrasi internet ke seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan suatu studi oleh eMarketer, pada akhir 2019 Indonesia diprediksi akan memiliki 92 juta pengguna smartphone, sebagian besar di antaranya akan mengakses internet untuk pertama kalinya. Namun karena infrastruktur internet yang belum merata, dan bandwith 2G juga lamban, orang-orang tersebut menggunakan smartphone biasanya hanya untuk scrollinglinimasa Facebook. Bagi daerah-daerah yang memiliki jaringan internet yang benar-benar lamban, seringkali hanya WhatsApp yang menjadi opsi akses yang memungkinkan.

Hilangnya Sebuah Kepercayan

Tentunya dengan angka yang sangat fantastis, hal ini menjadi lahan subur bagi media untuk menaikan jumlah pengunjung dan pembacanya. Sayangnya, media seperti gagal menyajikan informasi yang berbasis fakta dan berkualitas. Pada Pilpres 2014 dua media besar di Indonesia Metro TV dan TV One seringkali berada di tengah pusaran konflik ini, sejalan dengan pemilik keduanya yang berada di kubu yang berseberangan kala itu. hal ini membuat  semakin bias dan partisan beberapa tahun belakangan, sebagaimana terlihat dalam perbedaan hasil Pemilu Presiden pada 2014 silam.

Lalu Kita sebagai masyarakat bisa apa?. Tentunya banyak artikel yang menyebutkan hoaks mudah tersebar, karena kurangnya literasi di masyarakat kita. Salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat mudah mempercayai hoax atau berita palsu karena rendahnya budaya literasi Indonesia. – Kepala Editor Trans Media Titin Rosmasari mengungkapkan bahwa rendahnya budaya literasi Indonesia menjadi salah satu faktor masyarakat mempercayai hoax atau berita palsu. “Hoax juga marak karena budaya baca menurun dan masyarakatnya aktif memegang gawai,” kata dia saat menjadi pembicara di World Press Freedom Day, Jakarta, seperti dikutip Antara, Senin (1/5/2017).

Data UNESCO yang pernah dilansir pada 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 atau satu orang yang memiliki minat baca dari setiap seribu penduduk. Data lembaga penelitian Nielsen yang menyebutkan penduduk Indonesia yang setiap hari dapat menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan komputer selama empat jam 42 menit, browsing di telepon genggam selama tiga jam 33 menit dan menghabiskan waktu di sosial media selama dua jam 51 menit. tentunya dengan waktu selama itu ada kemungkinan besar kita telah membaca berita hoaks atau bahkan menyebarkanya.

Dengan adanya pengguna smartphone dan media sosial, ditambah minimnya literasi media, jadilah kita menjadi masyarakat yang mudah termakan masalah atau berita di dunia maya, kemudian mudah menyebarnya. Hal tersebut tidak bisa dilontarkan dari kecenderungan mayarakat yang sudah terbiasa berpikir kritis dalam mengkonsumsi berita, yang berpangkal dari minimnya minat baca; budaya literasi, dan literasi media di masyarakat.

Keyakinan dengan dasar seperti politik, agama, kultur kerap membuat orang mengedepankan prasangka alih-alih fakta. Prasangka tersebut yang kerap kali dibawa ketika berpendapat di ruang publik seperti di media sosial. Tak terkecuali ketika membaca dan membagi informasi. Dalam kondisi demikian, kebenaran informasi apakah ia berbasis pada fakta atau kebohongan menjadi tidak penting lagi. Hal yang dianggap lebih penting adalah, apakah informasi tersebut mengafirmasi keyakinan yang dimiliki atau tidak. Prasangka tersebutlah yang membuat hoax.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hoax tersebar sangat cepat melalui media sosial dan media konvensional. Fakta menunjukkan masyarakat Indonesia lebih mudah menerima hoax dibandingkan dengan informasi yang berdasarkan fakta. Masyarakat Indonesia lebih suka untuk menyebarkan hoax dibandingkan dengan informasi yang intelektual. Survei membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih tertarik untuk menyebarkan hoax yang tidak mendidik dan tidak berdasarkan fakta.

Kurangnya Literasi media sosial pada era 4.0 menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi pemerintah saat ini. Kemajuan teknologi banyak disalahgunakan oleh masyarakat Indonesia. Saat  ini media sosial menjadi sarana masyarakat untuk menyebarkan berita yang didapat dari sekitarnya. Kita sebagai mahasiswa di era 4.0 haruslah lebih sensitif dalam menerima berita. Tak jarang mahasiswa Indonesia menerima berita dengan begitu saja tanpa tahu asal dan kebenaran dari berita tersebut. Ketidakjelasan berita tersebut dapat menyebabkan kontroversi antara masyarakat Indonesia.

Seluruh masyarakat Indonesia dapat menciptakan sebuah media atau berita, media yang berdasarkan fakta ataupun media yang didasarin oleh opini. Sebuah media yang didasari oleh fakta menghasilkan berbagai opini dari masyarakat yang menyaksikannya, sedangkan media yang didasari oleh opini menghasilkan berbagai fakta-fakta baru yang menyebabkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Sebagai masyarakat Indonesia yang lebih maju kita harus semaksimal mungkin memahami apa media atau berita yang tersebar di sekeliling kita. Masyarakat saat ini menjadi sarana penyebaran berita yang sangat cepat. Hal tersebutlah yang sangat disayangkan oleh pemerintah, karena kebanyakan berita yang disebarkan oleh masyarakat adalah hoax, masyarakat saat ini menyebarkan berita tanpa mencermati dan menkonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *