Bulan Ramadan, Saatnya Meningkatkan Minat Baca

Pada Pertengahan malam bulan Ramadan, seorang pria sedang menikmati rutinitasnya.  Menyendiri dan merenung, lalu tanpa disangka malam itu adalah malam yang bersejarah. Sesosok malaikat datang, lalu meminta nabi membaca, sebagai bentuk perinta dari Allah. ebuah titik awal dari peradaban menuju keselamatan (Islam). Sebuah awal dari rangkaian pedoman hidup yang diberikan kepada manusia pilihan -dipersiapkan selama 40 tahun, terbukti kapabilitasnya, dan merupakan manusia yang sangat dapat dipercaya-, yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.

Ayat pertama berupa perintah membaca (bahkan diberikan sebanyak 3x karena mengalami penolakan dari Rasulullah) kepada seseorang yang tuna aksara. Ini menjadi menarik karena pemahaman ini akan menjadi polemik di masa sekarang.

Tentunya kita sama-sama telah paham bahwa maksud dari perinta membaca bukan hanya sekedar membaca text saja, lebih dari itu. Namun, sesungguhnya banyak dianatar kita dalam membaca text saja sangat jarang, lalu bagaimana cara membaca yang lain?.

Pada 2014 muncul penelitian yang membuktikan satu dari lima anak tidak mampu “membaca dengan baik” di usia 11 tahun. Sebuah laporan OECD baru-baru ini memperkirakan ada sembilan juta orang dewasa di usia kerja di negara maju memiliki kemampuan membaca rendah (yang berarti lebih dari seperempat populasi). Angka yang jauh lebih buruk dapat muncul dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Data minat baca UNISCO tersebut United Nations Development Proggrame (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB, merilis bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, jauh bila dibanding dengan negara tetangga Malaysia 86,4 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang sama indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. Sesuai dengan rangking tersebut maka terlihat semakin jauh pula  ketertinggalan kualitas dan kompetisi masyarakat Indonesia jika dibandingkan dari berbagai negara yang ada di dunia., masyarakat Indonesia rata-rata membaca buku 27 halaman per tahun, kemudian membaca koran rata-rata 12-15 menit per hari.

Tentunya dengan sangat banyaknya data krisis membaca sudah sepantasnya kita khawatir. Saat negera-negara lain telah mengimplementasikan budaya membaca, kita malah sangat jauh tertinggal. Sudah sepantasnya kita mulai memerhatikan minat baca kita, Indonesia merupakan populasi penduduk muslim terbanyak di dunia, lalu kenapa kita malah tertinggal?. Dengan kemajuan teknologi mengakibatkan banyaknya sumber bacaan. Jika dahulu kesempatan membaca hanya bisa di dapat dari memiliki buku, sekarang kita tidak perlu membeli buku. Sayangnya dengan kemudahan ini, minat baca malah menurun.

Sejak terbukanya kebebasan informasi dan teknologi media, pertumbuhan media massa dan media baru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Media komunikasi yang telah bermetamorfosis menjadi media digital itu perkembangannya semakin beragam, lebih gampangnya direpresentasikan oleh pertumbuhan smartphone dan sejenisnya.

Keyakinan dengan dasar seperti politik, agama, kultur kerap membuat orang mengedepankan prasangka alih-alih fakta. Prasangka tersebut yang kerap kali dibawa ketika berpendapat di ruang publik seperti di media sosial. Tak terkecuali ketika membaca dan membagi informasi. Dalam kondisi demikian, kebenaran informasi apakah ia berbasis pada fakta atau kebohongan menjadi tidak penting lagi. Hal yang dianggap lebih penting adalah, apakah informasi tersebut mengafirmasi keyakinan yang dimiliki atau tidak. Prasangka tersebutlah yang membuat hoax.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hoax tersebar sangat cepat melalui media sosial dan media konvensional. Fakta menunjukkan masyarakat Indonesia lebih mudah menerima hoax dibandingkan dengan informasi yang berdasarkan fakta. Masyarakat Indonesia lebih suka untuk menyebarkan hoax dibandingkan dengan informasi yang intelektual. Survei membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih tertarik untuk menyebarkan hoax yang tidak mendidik dan tidak berdasarkan fakta.

Kurangnya Literasi media sosial pada era 4.0 menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi pemerintah saat ini. Kemajuan teknologi banyak disalahgunakan oleh masyarakat Indonesia. Saat  ini media sosial menjadi sarana masyarakat untuk menyebarkan berita yang didapat dari sekitarnya. Kita sebagai mahasiswa di era 4.0 haruslah lebih sensitif dalam menerima berita. Tak jarang mahasiswa Indonesia menerima berita dengan begitu saja tanpa tahu asal dan kebenaran dari berita tersebut. Ketidakjelasan berita tersebut dapat menyebabkan kontroversi antara masyarakat Indonesia.

Seluruh masyarakat Indonesia dapat menciptakan sebuah media atau berita, media yang berdasarkan fakta ataupun media yang didasarin oleh opini. Sebuah media yang didasari oleh fakta menghasilkan berbagai opini dari masyarakat yang menyaksikannya, sedangkan media yang didasari oleh opini menghasilkan berbagai fakta-fakta baru yang menyebabkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *