Kebersihan Sebagian Dari Iman Dilahap Oleh Impor Sampah

Beragam penelitian mengungkap fakta, bahwa Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah Cina. Maka jangan kaget melihat sungai kita kotor gara-gara sampah. Tapi penyelidikan sebuah LSM lingkungan mendapati temuan baru. Selain berstatus pemasok sampah tak bisa didaur ulang itu, Indonesia rupanya sekaligus importir sampah plastik dari Australia. Selain kiriman yang berasal dari Australia, Indonesia juga mendapati banyaknya sampah plastik ilegal yang masuk berkedok Impor kertas bekas. Sampah tersebut berasal dari beberapa negara di Eropa, Asia, bahkan Amerika.

Pada laporan Vice Indonesia menjelaskan bahwa LSM lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) yang meneliti pencemaran dari 22 pabrik kertas di sepanjang Sungai Brantas, Jawa Timur. Lantaran kekurangan bahan baku, jamak bagi pabrik kertas Indonesia mengimpor kertas bekas. Salah satu negara pengekspor kertas bekas terbesar ke Tanah Air adalah Australia. Menurut catatan Ecoton, Negeri Kanguru mengekspor 52 ribu ton sampah ke Indonesia sepanjang 2018 saja. Masalah lainnya, aktivis menduga Australia menyusupkan ribuan ton sampah plastik di antara tumpukan kertas bekas itu “dengan kesengajaan.”

Seperti dijelaskan sebelumnya, selain Australia. Beberapa negara juga ikut ambil andil dalam melakukan pengimporan sampah ke Indonesia. bahkan negera-negara di Asia tenggara juga melakukan hal serupa eperti Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam.

Menurut The Economist, Selasa (18/6), pemicunya adalah kebijakan Pemerintah China. Negeri Panda itu menghentikan impor sampah dari AS dan Eropa sejak akhir 2017. China merupakan produsen pengolahan sampah daur ulang terbesar di dunia.

China sebagai produsen manufaktur menjual produk dalam kemasan ke negara maju. Sebaliknya AS hingga Eropa sebagai importir produk-produk konsumsi mengirim balik sampahnya ke China. Namun, China kemudian menyetop pembelian sampah impor. Akibat keputusan China, nilai perdagangan sampah plastik dan kertas bekas dunia sebesar USD 24 miliar per tahun menjadi mati. “Pemilik sampah yang dari negara maju harus mencari pembeli baru. Negara Asia Tenggara pun menjadi tujuan dari sampah-sampah impor,” tulis The Economist.

Sayangnya, industri pengolahan sampah daur ulang di kawasan Asia Tenggara tak besar. Industri pengolahan kemudian kelebihan pasokan dan sampah menumpuk di tempat pembuangan. Hal inilah yang memicu larangan impor dari negara-negara ASEAN.

Dengan banyaknya sampah, secara tidak langsung mengubah tindakan masyarakat dalam melakukan mata pencaharian. Di Siduarjo Misalnya, Puluhan Pabrik tahu memutuskan mengantti bahan baku pembakaran mereka yang awalnya menggunakan kayu bakar, kini menggunakan sampah plastik. alasanya sederhana. menghemat biaya produksi. padahal asap pembakaran sampah pelstik sangatlah berbahaya untuk kesehatan tubuh manusia, dapat mencemari lingkungan dengan asap hitam, serta dapat menembu lapisan ozon yang berfungsi melindungi bumi dari sinar matahari langsung.

tentunya ini menjadi pekerjaan besar bagi pemerinta dan rakyat. belum selesai permasalahan sampah dalam negeri kiniĀ  masalah sampah bertambah dengan adanya impor ilegal sampah. saya sendiri acapkali menemui imbauan-imbauan bahwa “Kebersihan sebagian dari iman”. Imbauan ini tersebar sangat banyak. baik berupa papan penguguman, poster, postingan di sosial media, bahkan berupa baleho. lalu?. bagaimana harapan kebersihan sebagian dari iman akan terwujud jika permasalahan sampah dalam negeri belum selesai, masyarakat masih saja bahagia jika membuang sampah sembarangan, masyarakat masih sennag menggunakan bahan plastik, sering berbelanja mennggunakan kantong pelastik. belum selesai masalah itu, kini Indonesia dijdikan surga pembuangan sampah oleh negara-negara maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *