Pansos adalah kultur

Tentunya dengan adanya Kemajuan teknologi informasi digital saat ini, memicu naiknya kecenderungan untuk narsis. Rendah tingginya hobi untuk narsis membuat naiknya kecenderungan untuk eksis. Atau lebih tepatnya ingin dianggap, diakui keberadaannya. Dan kecenderungan untuk eksis memicu munculnya pansos (panjat sosial) instan mereka sering menyebutnya Caper (Cari Perhatian) pada akhirnya menimbulkan ketimpangan ketimpangan sosial yang seharusnya tak terjadi.

Upaya untuk mencapai hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara. Mulai sekadar menebar-nebarnya di lini masa sosial media dalam bentuk tulisan, foto, video yang disukai atau bahkan dibenci banyak orang sampai kepada aksi lapangan. Bisa secara adem-adem saja, bisa secara provokatif.

Masifnya upaya-upaya tersebut membentuk sebuah lingkaran setan secara terus-menerus kecenderungan untuk eksis, ingin dianggap, ingin diakui dalam pola perhubungan sosial. Yaa harus diakui hal Itu bersifat artifasial (Dibuat-buat), manusia seakan menjadi kabur pandangannya karena kuatnya pagar yang terbangun dalam lingkaran setan tersebut.

Dalam dunia profesional kerja yang sesungguhnya jenis keberadaan yang diakui biasanya berdasarkan keahlian yang dimiliki. Bagaimana secakap apapun seseorang dalam bergaul, atasan akan lebih memperhatikan apabila orang tersebut kompeten dan mencurahkan segenap dedikasinya, tenaganya secara totalitas untuk meningkatkan produktivitas perusahan, lembaga, instansi, institusi.

Berbeda dengan dunia profesional kerja yang hierarkis. Di dalam pergaulan, baik di dusun, kampung atau kota ada jenis – jenis eksistensi diakui lebih beragam. Keberagaman itu biasa timbul karena faktor sejarah atau karena kebudayaan yang dibangun masyarakatnya.

Ada masyarakat yang lebih mengakui orang dengan jenis eksistensi berdasarkan keahlian dalam menjalin perhubungan sosial saja daripada berdasarkan kompetensi yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Ada masyarakat yang mengakui orang dengan jenis eksistensi berdasarkan kompetensi yang bermanfaat bagi masyarakat daripada sekadar kecapakan dalam menjalin perhubungan sosial.

Ada juga masyarakat yang menghormati orang dengan jenis eksistensi berdasarkan keduanya. Cakap dalam menjalin perhubungan sosial sekaligus kompeten dalam hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Jika di sebuah masyarakat seseorang tak bisa memenuhi jenis eksistensi yang menjadi trend ada semacam sanksi sosial. Misalnya tidak terlalu dianggap keberadaannya. Tidak sedikit orang yang menganggap itu cukup berat.

Oleh karenanya, tentunya pansos menjadi sebuah kewajiban bagi siapa pun yang ingin diakui dan selamat. Atau lebih tepatnya selamat di wilayah kehidupan dengan subyek kecil bernama manusia yang jumlahnya sudah begitu banyak ini.

Sebenarnya pansos adalah sebuah proses sangat alamiah. Seseorang yang di sebuah masyarakat selalu tulus membantu orang lain sudah otomatis melakukan pansos. Apalagi konsisten dalam waktu lama. Sangat mungkin mendapatkan efek berupa penghormatan dari masyarakat tersebut.

Permasalahannya, sekarang dengan adanya percepatan kemajuan di berbagai bidang yang memicu dominasi kepentingan dianggap ada daripada kemaslahatan, sehingga menyebabkan timbulnya semangat untuk mencapai puncak teratas sosial secara instan. Pansos yang tadinya sebuah proses alamiah menjadi sebuah proses karbitan. Seseorang menggunakan trik – trik tertentu untuk mencapai posisi puncak hierarki sosial.

Di masa lampau ada struktur yang jelas, ada kesepakatan sosial-budaya yang bisa dikatakan kuat. Misalnya antara raja dengan para petinggi kerajaan yang secara hierarkis berada di bawahnya juga dengan rakyatnya.

Di masa sekarang tak ada struktur jelas, tak ada kesepakatan yang jelas. Kita sepakat memakai sistem demokrasi. Tetapi prakteknya berbeda. Penentuan keputusan dikuasai elit yang maskulin dan dominan kepada non elit yang feminin tak tidak dominan. Si elit merasa berhak melakukan eksploitasi.

Itu bukan tidak menimbulkan efek berlanjut. Generasi penerus merasa ingin balas dendam. Mereka ingin menjadi elit yang dominan secara instan. Ketika saatnya tiba mereka akan berlaku selayaknya elit yang dulu pernah melakukan eksploitasi kepada mereka.

Beberapa macam bentuknya seperti junior-senior di sekolah – sekolah, kampus – kampus, kaum muda di masyarakat, priyayi dan non priyayi kontemporer di dusun, dalam dunia sastra ada sastra kanonik dan tidak dalam artian yang politis.

Tentunya bagi saya pribadi pansos boleh-boleh saja, namun bukan berarti kita dapat menggapainya secara instan. Berapa banyak orang-orang yang tidak ingin lelah dalam mendaki, lebih memilih naik pesawat. Namun saat tiba dipuncak mereka akan merasakan kedinginan yang amat parah, karena tidak merasakan dingin yang pelan-pelan naik saat mendaki.

2 thoughts on “Pansos adalah kultur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *