BODOHNYA AKU!!!!

Hampir Genap 10 tahun merantau, saya banyak bertemu orang-orang dengan beraneka ragam sikap dan pemikiran. Tentunya pada perjalanan kisah ini membentuk pola pikir saya, salah satu pola pikir yang terbentuk adalah sikap memandang orang lain.

Dahulu saya amatlah sangat senang menghakimi mereka, saat mereka tidak sesuai dengan imajinasi saya. Saat saya melihat orang yang menyantap makanan di restoran cepat saji dengan tidak tertib dan terkesan sembrono saya langsung menghakimi kalau dia itu orang yang Jorok dan malu-maluin, bahkan saya berjanji tidak akan mengajak kawan yang seperti itu cara makannya kalau ke restoran cepat saji. “Siapa yang mau makan sama dia?, hambur banget cara makanya. malu-maluin amat. Makan seperti orang tidak pernah melihat makanan saja”

Ketika saya melihat orang mendukung pasangan presiden yang beda dengan pilihan saya. Langsung saya Olok-olok, menghakimi, menghina, bahkan menuduh dia tidak bisa melihat keadaan. lalu tanpa berpikir panjang, saya dengan semangatnya memanggil mereka dengan sebutan yang hina. “Lihat dia itu, sudah jelas Presiden ini antek Komunis masih saja dia pilih, otaknya dimana coba”.

Saya Sempat sangat lama tersesat pada keegoisan imajinasi saya. Sampai lupa bahwa bisa jadi orang yang makanya seperti itu, bukan karena dia jorok. Bisa jadi dia adalah orang yang menganggap makanan cepat saji yang kita anggap biasa saja, bagi dia mewah sekali. Mungkin kita bisa semaunya menikmati makanan seperti itu dan mungkin bagi dia hanya bisa setahun sekali atau sebulan sekali. saya melupakan sesuatu yang telah menjadi bagian dari semua kehidupan, roda. saya terlalu asik bereforia hingga lupa bahwa ada masanya yang atas menjadi yang bawah dan yang bawah menjadi yang di atas. memang saat ini bisa dikatakan saya telah diatas dia ada di bawah, dia di bawah sedang menikmati proses pendewasaan tuhan untuk menuju ke atas. lalu ketika tuhan sedang ingin membuat saya lebih dewasa dengan meminta kembali kebawah. apa yang saya bisa sombongkan?

Mungkin saya terlalu egois mendukung presiden pilihan saya, membuat saya gelap mata. Saya lupa memikirkan bahwa mereka yang memilih calon presiden lain merasakan ada jiwa kepemimpinan yang tidak dimiliki presiden pilihan saya, bahwa saya lupa melihat kebaikan presiden pilihan dia. Saya terlalu egois. bukankah manusia adalah makhluk yang kompleks dengan segala perangkat baik dan buruknya?.

Saya lupa bahwa manusia diciptakan berbeda, bukan hanya dari segi bentuk, suku, agama, bangsa. Ternyata perbedaan lebih dari itu. Kita sejatinya adalah sekumpulan prespektif yang berbeda.

LEMBARAN LAIN: Semesta? kau membingungkanku

Dahulu, bahkan terkadang sampai saat ini, saya adalah orang yang idiot. Saya selalu memaksa opini saya diterima. Dengan hanya bermodalkan beberapa data, lalu merasa opini saya-lah yang paling benar. Orang lain pokoknya salah. Saya tidak memahami bahwa orang lain mempunyai sudut pandang berbeda. Saya selalu menjual narasi bahwa “Kebebasan berpendapat adalah hak semua rakyat” Sehingga jika ada yang menolak opini saya, saya anggap melecehkan. Saya lupa. Bahwa menolak dan tidak setuju juga merupakan bagian dari kebebasan berpendapat.

Saya juga kadang masa bodoh sama Opini orang. Selalu mengatakan “Hidup saya bukan urusan orang”  merasa pengalaman hidup telah cukup sehingga kritik orang lain berikan adalah hal yang tidak perlu diperhatikan. Saya Lupa “Hidup kita memang tidak semestinya mendengarkan ocehan orang, tapi bukankah kita juga tidak selalu benar?”

Saya Sadar, bahwa hidup bukan perkara keegoisan, tapi hidup adalah serangkaian komunikasi bersama kepada kebenaran daripada mencari pembenaran.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *