You are here
Home > Feature > Masihkah muhrim kita, ketika di sosmed

Masihkah muhrim kita, ketika di sosmed

Teknologi penyedia layanan chatingan kini telah sangat banyak, hal ini telah mempermudah komunikasi manusia menjadi lebih mudah dan cepat. Walaupun berbeda pulau pesan yang kita sampaikan dapat terkirim dalam sekejap.

Grup-grup chatingan juga telah banyak ada yang membentuk karena alasan satu organisasi, satu komunitas, satu keperluan, bahkan ada yang membentuknya hanya buat hiburan semata. Obrolan obrolan di grup sosmed pun bisa membahas apa saja mulai dari masalah ke-organisasian, atau hanya sekedar bercanda ria saja.

Tak jarang mereka sosmed ria bercampur antara laki laki dan wanita. Saya pribadi terkadang sesekali juga ikut nimbrung bersama mereka untuk sekedar menyapa, atau agar tidak dikatakan sebagai silent reader.

Namun terkadang ada hal yang masih saya sering pertanyakan, masihkah berlaku aturan agama bahwa ada batasan antara laki-laki dan wanita di dunia nyata ketika kita berada di chatingan grup sosmed?

Saya tentu tidak mau dikatakan hanya memberlakukan aturan agama di dunia nyata sedangkan di sosmed saya tidak memberlakukan itu lagi. Maka saya coba mencari-cari jawaban atas masihkah muhrim kami ketika di sosmed.

Dari hasil yang saya temukan semua berpendapat bahwa aturan muhrim masih berlaku di sosmed, walau tak saling tatap dan tak saling bertemu aturan itu masih berlaku.

Ada sebuah kata yang menarik dari salah satu sumber yang saya cari

lebih berbahaya ketika seorang wanita dan laki laki berdua-duan di sosmed daripada di dunia nyata, karena ketika di sosmed perasaan malu akan kelakuan di dunia nyata tak ada lagi ketika di sosmed”

Hal itu memang ada benarnya, beberapa orang teradang lebih caper di sosmed daripada di dunia nyata, tak jarang gombalan-gombalan manis mereka utarakan lebih aktif di sosmed daripada di dunia nyata.

Oke chatingan berduaan tak boleh namun bagaimana jika kita chatingan di grup yang banyak bisa membaca pesan kita?

Lagi-lagi saya coba mencari hal ini, dan setelah saya menemukan rata rata mereka berpendapat tetap saja tidak boleh ketika yang di bahas itu tidak penting. Karena batasan itu tetap ada.

Tidak boleh bukan berarti kita tidak chatingan bersama mereka, chatingan boleh saja namun hal yang perlu diperhatikan adalah isi chatingan itu. Ketika chatingan membahasa masalah ke-ilmuan, membahas kegiatan yang akan dilakukan. Maka itu boleh saja namun jika hal yang di bahas adalah sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat ( mohon di baca dulu apa artinya syahwat ) maka sudah pasti itu tidak boleh.

Saya pun tetap sering muncul dan ikut chatingan di grup saya terutama di grup whatsapp agar tak dikatakan anti sosial dengan menjaga apa yang telah dilarang oleh agama saya.

Memang saya bukan orang alim, sebelum tulisan ini saya tulis  saya juga sering sekali nimbrung di grup chatingan membahas hal-hal yang tak penting. Terkadang juga pesan via japri masuk dari wanita yang bukan muhrim saya dan saya pun membalasnya karena hal itu penting. namun Terkadang juga ada yang menanyakan kabar, menanyakan kegiatan apa yang saya lakukan, sudah makan atau belum, dan masih sangat banyak. Tentu ini tidaklah amat penting.

Membahas hal-hal kesegalah yang  arah yang tidak penting sama sekali  sudah pasti akan adalah hal yang salah. Namun seiring berjalanya waktu saya mulai sadar, ada batasan yang wajib saya jaga, karena terkadang tindakan termasuk juga kedalam dakwah walau tak terucap.

Saya teringat perkataan seseorang yang dia bukan bersekolah di pondok pesantren, bukan juga orang yang di kategorikan cerdas dalam hal agama, namun perkataanya begitu menusuk hati saya sehingga saya tidak lagi chatingan ketika hal itu tidak bermanfaat, dia mengatakan begini

dimana hasil pembelajaranmu ketika kau di pondok, tapi nyatanya kau tidak bisa menjaga pergaulanmu dengan lawan jenis?!!”

Simple tapi begitu dapat mengubah tindakan saya.

Chatingan tentu ada aturan agama, itupun jika anda beragama. Namun kita juga tidak boleh menjadi anti sosial sehingga mengabaikan pesan orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Semoga kita diberi kemudahan agar bisa menjaga pandangan di dunia nyata maupun di sosmed.

Ini hanya curhatan saya jika anda tidak setju tidak mengapa, saya tidak aka mempermasalahkanya.

baca juga

3 thoughts on “Masihkah muhrim kita, ketika di sosmed

  1. Bahasan yang menarik. Di era komunikasi bebas ini, memang sangat sulit untuk menarik batas, apalagi masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Dan inilah tantangan buat kita, bagaimana kita harus menyikapinya.

  2. Syukron atas pembahasannya… Sangat menggetarkan.
    Kini saya sadar dan paham bagaimana selayaknya saya menggunakan sosmed.

Tinggalkan Balasan

Top