You are here
Home > Feature > Di masa Orientasi, jangan ada lagi kekerasan

Di masa Orientasi, jangan ada lagi kekerasan

Masa penerimaan pelajar baru telah dimulai bahkan diantaranya telah melakukan masa orientasi atau lebih akrab disebut Ospek. Mungkin tulisan ini terkesan lambat untuk saya publikasikan tapi tidak mengapa, saya hanya ingin menuliskan segala pikiran saya tentang ospek di Indonesia.

Sudah sangat lazim di negeri yangtelah merdeka 72 tahun ini di setiap sekolah melakukan masa orientasi pada pelajar barunya. Namun melihat dari beberapa kasus yang telah terjadi masa orientasi yang seharusnya mendidik para penerus generasi bangsa ini malah dijadikan panggung pembalasan dendam oleh para seniornya.

Lazimnya tujuan dari masa orientasi adalah mengenalkan segala aktivitas serta kegiatan sekolah kepada colon pelajar baru, namun dibeberapa kasus para senior tidak sama sekali memasukan nilai-nilai tersebut kedalam masa orientasi yang mereka lakukan.

Terkadang para pelajar baru diperlakukan tidak lazim, dipermalukan, dicaci maupun dimaki, bahkan terkena serangan fisik. Para panitia selelu beralasan klasik melanjutkan bualan bualan yang beralasan bahwa mereka melakukan hal tersebut demi membuat mereka menjadi manusia yang kuat dan tangguh. Padahal tujuan ospek bukanlah menjadikan mereka menjadi jagoan yang hebat.

Berikut adalah daftar kekerasan masa orientasi yang pernah terjadi di Indonesia yang dikutip okezone.com

Baca juga:

1. Ery Rahman, praja baru Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau yang kini berubah nama menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) meninggal dunia di RS Al-Islam, Bandung pada 3 Maret 2000. Ia tewas diduga karena dihukum oleh seniornya di STPDN.

2. Donny Maharaja merupakan mahasiswa baru Universitas Gunadarma. Donny meninggal pada 31 Agustus 2001 akibat kekerasan fisik usai mengikuti studi pengenalan lapangan di Cileungsi, Bogor.

3. Pada 2 November 2002, dunia pendidikan nasional dikejutkan kembali oleh meninggalnya Wahyu Hidayat. Ia adalah praja baru STPDN (IPDN). Wahyu meninggal akibat dianiaya oleh seniornya karena lalai menjalankan kegiatan ekstrakurikuler.

4. Setahun berlalu, kekerasan Ospek di STPDN yang paling banyak mendapatkan perhatian adalah tewasnya Cliff Muntu. Praja STPDN itu menghembuskan napas terakhir pada 3 September 2003 karena dianiaya oleh seniornya.

5. Bentuk kekerasan bagi mahasiswa baru kembali terjadi pada 3 April 2007. Korbannya adalah Agung Bastian Gultom yang merupakan mahasiswa baru di Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran. Korban meninggal karena disiksa seniornya.

6. Aksi kekerasan saat Ospek terhadap mahasiswa baru juga menyebabkan meninggalnya Dwiyanto Wisnu Nugroho pada 12 Mei 2008. Mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tewas saat mengikuti long march pelantikan anggota baru mahasiswa Geodesi ITB.

 

7. Kekerasan saat Ospek di STPDN terulang lagi pada 27 Januari 2011. Korbannya adalah Rinra Sujiwa Syahrul Putra (19) anak dari mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Pada 27 Januari 2011, Rinra jatuh sakit dan izin pulang ke Makassar kemudian pada Jumat 28 Januari korban mendapat perawatan di rumah sakit. Lantas pada 29 Januari Rinra kembali ke Jatinangor, keesokan harinya praja lain melihat Rinra sudah tidak bergerak di dalam kamar asrama.

8. Berikutnya pada 17 Juli 2012, seorang mahasiswa baru Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang, Banten, tewas setelah dua hari mengikuti Diklat Orientasi Pembelajaran (DOP) atau semacam Ospek di kampusnya. Ia adalah Erfin Juniayanto alias Mulyono.

9. Kasus kekerasan kembali dialami Fikri Dolas Mantya yang akhirnya meninggal dunia pada 12 Oktober 2013. Korban yang merupakan mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, tewas diduga karena kekerasan saat mengikuti Ospek.

10. Setelah STPDN berganti nama menjadi IPDN, kasus kekerasan di kampus milik pemerintah itu belum mampu dihentikan. Jonoly Untayanadi (25), mahasiswa tingkat tiga kampus IPDN Sulawesi Utara atau Sulut, meninggal dunia usai mengikuti Ospek pada Jumat 25 Januari 2013. Ketika dirujuk ke rumah sakit, mulut korban mengeluarkan darah. Korban akhirnya meninggal di rumahnya di Tikala Baru, Manado, Kamis 24 Januari 2015.

Selain beberapa kasus di atas sesungguhnya masih sangat banyak lagi kasus yang sangat membuat geleng-geleng kepala, seperti kasus masa orientasi salah satu perguruan tinggi yang memerintahkan para peserta berhubungan badan layaknya suami-istri.

 

Semogah masa orientasi tidak lagi berbungkus kekerasan yang berlapiskan balas dendam, karena adik-adik peserta yang akan melanjutkan estapeta perjuangan kita menegagkan kebaikan, jika bukan mereka siapa lagi yang kita harapkan. Mereka adalah kader-kader berharga kita yang wajib kita bimbing dan didik, masa orientasi adalah masa yang sangat tepat melakukan hal tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Top