You are here
Home > Unik > Menjadi Santri itu….

Menjadi Santri itu….

Ketika seseorang memilih menjadi santri sudah tentu mereka mempunyai cerita masing-masing. Namun kebanyakan yang mereka rasakan adalah kegoncangan yang ada di hati, karena merasakan perubahan baik itu perubahan dari luar maupun perubahan yang ada di dalam diri mereka.

Terkadang mereka yang pertama kali menjadi seorang santri akan merasakan kegooncaangan luar biasa sehingga membuat mereka sedih menahan rindu. Alahasil sudah hal yang wajar disetiap tahun ada saja santri yang gugur dan membuat mereka kembali ke tempat asal padahal belum lama mereka menjadi santri dipondok pesantren.

Mereka yang bertahan juga sempat mempunyai keinginan mengikuti mereka yang telah gugur. Tapi mereka terus bertahan dan bertahan. Walaupun terkadang kerinduan mereka tidak bisa terbendung. Mereka melampiaskan kerinduan itu dengan menangis di sudut-sudut pesantren.

Menangis menahan rindu, namun lambat laun mereka telah terbiasa dengan lingkungan pondok dan membuat merekah menjadi betah. Menjadi seorang santri sangatlah tidak mudah untuk dijalani, dengan aturan yang sangat ketat diamana kata orang orang di masa muda ini kita harus mencari jatih diri, mengespresikan diri dengan sebaik baiknya. Namun hal itu tidaklah berlaku dipondok.

Sistem aturan telah tertata rapi, menjadi seorang santri harus mengikuti aliran-aliran aturan yang telah di buat. Apakah itu salah? Tentu tidak karena dengan sistem yang diterapkan pondok pesantren untu santri telah di ambil dari Al-Quran dan hadist.

Sistem aturan yang ada ini bukan membatasi pengespresian jiwa mudah seorang santri, namun mereka diarahkan untuk mengespresikan jiwa muda mereka ke hal yang positif. Mereka diharpakan menjadi seorang panutatan yang berguna untuk masyarakat baik itu di dunia maupun di akhirat kelak.

Menjadi seorang santri juga terpenuhi banyak tantangan, bagaimana seorang santri itu tidak hanya menguasai ilmu agama. Tapi mereka juga secara langsung maupun tidak langsung di tuntut menguasai ilmu yang bukan ilmu hadist dan Al-Quran. Bersainng bersama mereka yang berkeinginan memisahkan antara agama dan dunia.

Saya sendiri juga ketika mengingat menjalani santri di Balikpapan, mengingat ketika larangan keluar pondok dan hanya boleh keluar satu bulan sekali itupun jika mendapat izin dari pihak pengasuh, teringat ketika tidak pernah melihat satupun wanita, ada yang terlihat namun tertutup rapih, itupun saya tidak mengetahui apakah itu seorang santri muda atau ibu-ibu.

teringat ketika harus berbagi makanan, makanan apapun itu bahkan sepotong roti kecilpun terkadang terbagi menjadi lima bagian. teringat ketika rambut di cukur habis karena ketahuan bermain game dan keluar tidak izin. teringat ketika tidur hanya beralasakan tikar tipis yang tidak cukup menahan rasa dinginya lantai.

namun hal itulah yang akan menjadi cerita klasik untuk masa depan, cerita yang akan dikenang bersama kawan kawan ketika di hari tua nanti. tidak mengapa saya dan teman teman merasakan hal itu, nyatanya kami masih saja hidup sampai sekarang dan tidak mati karena hal-hal itu.

perjuangan itu tidak akan pernah sia-sia, ketika perjuangan telah menghasilkan buah maka seorang santri akan mengatakan “santri juga bisa”

untuk kalian yang sedang  mejalani kesantrian, jangan pernah ragu untuk terus bertahan ditempat kalian. Jangan pernah takut tidak bisa menguasai ilmu selain ilmu di pondok. Allah akan menolong kalian jika kalian menolong dan melestarikan ilmu agama ini. Percayalah dan terus berjuanng, karena semua akan indah pada waktunya.

Tidak mengapa untuk saat ini engkau masih merasa asing ditempat baru mu, tetap bertahan dan lawanlah bisik-bisikan setan yang ingin kau segerah minggat dari pondok. Karena sekali lagi semua akan indah pada waktunya.

 

Tinggalkan Balasan

Top