Melihat Sisi Lain Perang Badar

Pada 14 abad yang lalu, pertempuran dengan jumlah yang tdak seimbang terjadi. 17 Ramadan 2H, merupakan saksi betapa menakjubkanya sebuah mukjizat. Kala itu, pasukan muslimin yang berjumlah 313 orang dengan perlengkapan seadahnya, melawan pihak musuh dengan jumlah hampir 1000 orang beserta segala alat tempur yang lebih lengkap.

Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin, Perang besar pertama ini pun dimenangkan oleh kaum muslimin. 70 orang-orang musyrik tewas di medan Badar. Di antara mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy. Seperti: Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah. Dari pihak kaum muslimin, 14 orang menemui syahidnya. 6 orang Muhajirin. Dan 8 orang Anshar.

Tentunya cerita seperti diatas sudah sering kita dengar, atau bahkan membacanya sendiri. Para ustad ditempat saya seringkali menceritakan kemenagan ini berkat bantuan Allah melalui doa nabi Muhammad SAW, doa ini juga yang menjadi sumber inpirasi salah satu juru kampanye capres dan cawapres dalam kampanyenya. Adapun doa nabi kurang lebih seperti ini

Ya Allah, penuhilah apa yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, jika Kaubinasakan kelompok Islam ini, Engkau takkan lagi disembah di bumi.”


Setiap kali membahas perang badar, para ustad kebanyakan selalu fokus mengkaji dan mengajari tentang kekuatan doa terbukti dalam peristiwa perang Badar. Tentunya saya dan mungkin kita semua sepakat mengenai kekuatan doa dalam peristiwa ini. Tapi ada hal yang seringkali lupa dibahas para pengajar ini.

Mereka lupa bahwa selain doa, ada hal yang juga teramat penting dibahas. Mereka lupa membahas siapa saja yang ikut dalam perang badar dan apa saja yang kaum muslimin lakukan. Alih-alih pasrah kepada doa.

Sebelum perang dimulai nabi memerintahkan kaum bergerak ke sumber air terdekat dan menimbun sumber mata air yang lain. Taktik ini brilian. Kaum Quraisy Mekkah terpaksa perang dengan bergerak ke arah yang diinginkan kaum muslimin demi mendapatkan sumber mata air terakhir. Sementara itu, Nabi telah berhasil memosisikan para prajuritnya agar Quraisy Mekkah menghadap ke timur dengan sinar matahari langsung ke mata mereka. 

Perang dimulai dengan pertarungan kecil yang melibatkan tiga wakil dari kedua kubu. Kaum muslimin menurunkan Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Alharits. Sementara kaum Quraisy menerjunkan Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Ketiga jago Quraisy itu akhirnya tewas mengenaskan. Sementara Ubaidah mendapat luka serius dan mesti diusung ke luar medan. Meskipun Quraisy Mekkah unggul jumlah dan senjata, tetapi mereka kalah. Ini karena mereka bertempur dalam gaya Arab kuno yang sembrono dan hanya mengandalkan keberanian. Setiap klan memimpin pasukannya sendiri dengan motivasi perang masing-masing: balas dendam, merebut harta, hingga meraih status sosial. Tak ada kesatuan komando.

Sebaliknya, pasukan muslimin disiplin dalam satu komando dan terlatih. Di awal perang, pasukan Nabi menghindari pertarungan jarak dekat dan lebih memilih menyerang menggunakan panah. Pertarungan jarak dekat hanya dimungkinkan jika musuh mendekat. Nabi juga membagi pasukan muslim menjadi tiga kelompok sayap kanan, sayap kiri, dan tengah. Pasukan tengah adalah kaum Muhajirin dan Anshar yang telah berbalik membela Nabi sampai titik darah penghabisan. Salah satu orang yang berada di pasukan tengah terdepan adalah Ali bin Abi Thalib. Setelah menyadari kekalahannya, pasukan Abu Jahal panik dan melarikan diri. Mereka meninggalkan sekitar 50 pemimpinnya termasuk Abu Jahal dan Ummayah yang mati di medan pertempuran. Dalam euforia kemenangan, kaum muslimin mulai membunuh pasukan lawan yang tertinggal dengan gaya khas Arab. Berdasarkan wahyu yang turun, Nabi segera menghentikan perbuatan itu dan meminta para tawanan diperlakukan dengan baik. Nabi juga memerintahkan kaum Muslimin berhenti berebut harta rampasan perang yang terdiri dari 150 unta, 10 kuda, dan pelbagai perlengkapan perang. Semua harus dibagi secara merata. Dalam euforia kemenangan Perang Badar yang tak terduga ini, Nabi bersungguh-sungguh melihat ke depan untuk rekonsiliasi akhir. “Seusai perang, Rasulullah justru memperlakukan kaum musyrik dengan baik untuk memulihkan harga diri mereka yang hancur disebabkan kekalahan Perang Badar,” tulis Muhammad Fethulleh Gulen dalam Cahaya Abadi Muhammad (2012).

Ini baru strategi perangnya, mari berkenalan dengan beberapa orang-orangnya.

Dikisahkan yang pertama kali menyulut peperangan adalah Al Aswad Al Makhzumi, seorang yang berperangai kasar dan akhlaknya buruk. Dia keluar dari barisan orang kafir sambil menantang. Kedatangannya langsung disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhu. Setelah saling berhadapan, Hamzah radhiyallahu ‘anhu langsung menyabet pedangnya hingga kaki Al Aswad Al Makhzumi putus. Setelah itu, Al Aswad merangkak ke kolam dan tercebur di dalamnya. Kemudian Hamzah menyabetkan sekali lagi ketika dia berada di dalam kolam. Inilah korban Badar pertama kali yang menyulut peperangan.

Selanjutnya, muncul tiga penunggang kuda handal dari kaum Musyrikin. Ketiganya berasal dari satu keluarga. Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, dan anaknya Al Walid bin Utbah. Kedatangan mereka ditanggapi 3 pemuda Anshar, yaitu Auf bin Harits, Mu’awwidz bin Harits, dan Abdullah bin Rawahah. Namun, ketiga orang kafir tersebut menolak adu tanding dengan tiga orang Anshar dan mereka meminta orang terpandang di kalangan Muhajirin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ali, Hamzah, dan Ubaidah bin Harits untuk maju. Ubaidah berhadapan dengan Al Walid, Ali berhadapan dengan Syaibah, dan Hamzah berhadapan dengan Utbah. Bagi Ali dan Hamzah, menghadapi musuhnya tidak ada kesulitan. Lain halnya dengan Ubaidah. Masing-masing saling melancarkan serangan, hingga masing-masing terluka. Kemudian lawan Ubaidah dibunuh oleh Ali radhiyallahu ‘anhu. Atas peritiwa ini, Allah abadikan dalam firmanNya,

 “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka (Allah)…” (Qs. Al Hajj: 19)

Selanjutnya, bertemulah dua pasukan. Pertempuran-pun terjadi antara pembela Tauhid dan pembela syirik. Mereka berperang karena perbedaan prinsip beragama, bukan karena rebutan dunia. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tenda beliau, memberikan komando terhadap pasukan. Abu Bakar dan Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhuma bertugas menjaga beliau. Tidak pernah putus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melantunkan do’a dan memohon bantuan dan pertolongan kepada Allah. Terkadang beliau keluar tenda dan mengatakan, “Pasukan (Quraisy) akan dikalahkan dan ditekuk mundur…”

Beliau juga senantiasa memberi motivasi kepada para shahabat untuk berjuang. Beliau bersabda, “Demi Allah, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian dia terbunuh dengan sabar dan mengharap pahala serta terus maju dan pantang mundur, pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”

Tiba-tiba berdirilah Umair bin Al Himam Al Anshari sambil membawa beberapa kurma untuk dimakan, beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah surga lebarnya selebar langit dan bumi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Kemudian Umair mengatakan: “Bakh…Bakh… (ungkapan kaget). Wahai Rasulullah, antara diriku dan aku masuk surga adalah ketika mereka membunuhku. Demi Allah, andaikan saya hidup harus makan kurma dulu, sungguh ini adalah usia yang terlalu panjang. Kemudian beliau melemparkan kurmanya, dan terjun ke medan perang sampai terbunuh.”


Tentunya perang badar memberikan kita pelajaran bahwa seharunya doa selaras dengan kerasnya perjuangan. Banyak dianatara kita yang sangat menghamba dalam berdoa, tapi begitu lemah dalam usaha. Lalu ketika harapan yang terus menerus kita panjatkan tidak terkabul, kita mulai membenci Allah. Kita lupa bahwa Allah meminta kita menselaraskan usaha dan doa. Terbukti di nabi, nabi tidak hanya berdoa. Ia memberi komando yang tepat, mempunyai pasukan yang ahli.

Mari lebih banyak berdoa dan lebih banyak pula berusaha, karena sesungguhnya Allah juga menilai dari apa yang kita ushakan.

1 thought on “Melihat Sisi Lain Perang Badar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *