Tersesatnya Sang Gadis

Kabar Buruk dari Cinta Ialah konsekuensi dari pilihan.
Cinta, tidak seperti Drama yang sering dipertontonkan. Tapi mulai dari baris ini, ada yang berbeda. Rembulan dan bintang-bintang tertawa melihat sesosok gadis yang sedang tersenyum malu memandangi layar gawainya.

Dering alarm berbunyi menunjukkan pukul 07:00. alarm itu mengangetkan sang gadis.

“Aduh telat lagi”

sang gadis segera bergegas membersihkan diri dan secepat mungkin mengejar keterlambatan untuk segera menuju Sekolah dasar. Sebenarnya bekerja sebagai pengajar pembantu di Sekolah dasar hanya pekerjaan sampingan, hanya saja melihat upah dari pekerjaan ini tentunya bisa dikatakan sangat lumayan. Tapi bukan itu tujuan utamanya, ia hanya ingin pikirannya tidak terpenjara pada seseorang jika tidak membunuhnya dengan kesibukan.

“Ahh gara gara tidur setelah subuh, terlambat kan jadinya” gerutu sang gadis sembari mempercepat langkah kakinya.

Namun saat melewati gerbang kampus yang searah dengan tempat mengajarnya, kecepatan langkah itu perlahan-lahan melambat saat ia berpapasan dengan seorang pria. Bahkan ia tidak dapat melangkahkan kakinya lagi, Sebenarnya pria inilah yang menjadi alasan mengapa sang gadis bisa terlambat. Menjadi pengganggu indahnya saat malam hari, sosok yang menjadikannya selalu tersenyum saat malam hari. Jikalau kisah ini bagaikan Film-film FTV mungkin kejadian ini akan berjudul

“Mataku matanya adu tatap di depan gedung STIE”

Ada yang berbeda dari sikap sang gadis kepada pria ini. Setiap kali bertemu dia langsung membuang muka, kadang menundukkan pandangan terlebih dahulu setelah sepersekian detik memandanginya, karena malu jika sang pria menangkap pandangan sang gadis kepadanya. Namun sedetik kemudian ia kembali memandang punggung pria tersebut dengan mata yang berbinar. Ingin rasanya ia memberhentikan waktu, agar tatapan juga bisa selama yang ia mau.

Pada awalnya pria itu hanyalah sesosok biasa bagi sang gadis bahkan sama dengan pria kebanyakan. Bukan seorang yang paling cerdas, bukan seorang yang pendiam, bukan pula seorang yang berisik. Namun, entah mengapa bersama garis waktu, rasa kagum mulai tumbuh kepada sang pria. Walau Kadang didalam hatinya ada rasa ragu apakah dia juga merasa seperti apa yang ia rasa. Apakah dia didambakan seperti ia mendambakan. Namum siapa peduli, bagi sang gadis dia itu…. Sedikit spesial.

Tidak sampai disitu saja. Caranya membalas pesan amat spesial ia rasa, membuat Instastory yang berisi semangat hidup, Walau kadang pesanya membuat ia sangat menunggu, tapi bagi sang gadis balasan pesannya selalu spesial. Dia juga kadang tidak ragu untuk menasehati, memberimu semangat, terkadang bahkan mengirim text yang sederhana saja, namun mampu membuat lukisan senyum di bibir.

kadang dia bertanya mengenai kegiatan sang gadis

“Bagaimana Kuliahnya?”

“Sudah betah Di STIE?”

“Sabar saja di Kampus, semua akan terseleksi oleh Hukum alam”

“Ngajar di SD masih betah?

Lalu semakin larut, percakapan ini terus melaju, dari permasalahan umum di kampus hingga ke rana personal. Sang gadis bercerita tentang kehidupannya, tentang teman-temannya, tentang Ibu-ibu yang mengatur amat ketat, tentang teman-teman yang pacaran diam-diam karena takut ketahuan melanggar aturan kampus, Tentang anak-anak sekolah dasar yang sangat sulit diatur. Bagi sang gadis pria ini adalah pendengar terbaik, sekaligus penasehat yang gila. Dia selalu merespon keluhan Sang gadis dengan bercanda.

“Ya sudah, dengarkan saja kalau Ibu-ibu ngomel, nanti
Sleding mereka pas dari belakang”

“Biarin saja mereka pacaran diam diam, daripada teriak-teriak. Nanti dikira demo lagi.”

“Kamu ini lucunya. Namanya juga anak SD, wajarlah sulit diatur, kalau kamu yang sulit diatur itu baru merepotkan”

Ya Seperti itulah percakapan mereka yang aneh, tapi bagi sang gadis. Dia sangat menikmatinya. Percakapan sang gadis dengan sang pria bagai berjalan ditengah hutan yang amat lebat. Awalnya sang gadis amat menikmati keindahan. Namun semakin lama ia berjalan ia semakin tersesat. Banyak hewan hewan buas yang siap menerkamnya. Orang-orang menyebutnya jatuh cinta, membuatnya terdengar sangat indah.

Tapi sebenarnya tidak seindah itu, semakin berjalan, sang gadis telah jauh dari jalur. Ia telah tersesat dari jalur aman.

Karena Beginilah kenyataan terburuknya. Percakapan mereka hanya berpusat disitu-situ saja. Tak ada kepastian kemana ini akan berlanjut. Apakah apa yang didambakan akan terwujud atau malah bagaikan berjalan ditempat, tidak ada kelanjutannya. Kini sang gadis dipenuhi kebimbangan dalam hatinya

“Apakah bagi dia aku ini spesial?”

“Apakah dia memberikanku harapan?”

“Apakah Dia hanya anggap aku biasa-biasa saja?”

“Tapi jika hanya biasa-biasa saja, mengapa ia selalu rela menghabiskan waktunya untuk membalas pesanku?, Menemaniku bertukar cerita hingga larut?. Apa maksud semua itu?.”

Lalu teman-temanya berkata

“Sudahlah coba kamu bilang duluan deh, lihat contoh ibunda Khadijah, Berani bicara terlebih dahulu”

Bukan itu masalahnya utama yang sang gadis pikirkan, bagaimana jika setelah ia ungkapkan malah apa yang ia khawatirkan ternyata benar. Khawatir bahwa pohon cinta hanya tumbuh di hatinya dan tidak akan dirawat oleh sang pria. Dan tentunya dia teramat takut menerimanya. Ia belum siap untuk patah.

Lalu pada malam ini, bersama waktu yang semakin melaju, ditemani ponsel dengan layarnya menyinari pelupuk mata yang penuh harap. Sang gadis sedang membalas pesan, sama seperti biasanya. Ia semakin tersesat kedalam hutan. Dia sedang kebingungan

“apakah aku ungkapan atau harus aku pendam sangat lama?.”

Sang gadis mengumpul keberaniannya lalu mengirim pesan

“Ka’ Maaf kalau aku Lancang. Sebenarnya saya suka kaka, saya adalah orang yang ingin menjadi pelipur dikala lara, dan kawan dikala bahagia. Berkenan Kah kaka menerimanya?”

Pesan sampai, terlihat Celklist biru..

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *