Laki-Laki Dengan Impian Bodohnya

Sebuah hadiah kecil dari pencipta untuk manusia, sebelum ajal menyapa. Jodoh. Perihalnya tentang kesepakatan dua manusia . Lelaki sejati tahu bagaimana dia harus melangkah, perempuan sejati tahu bagaimana dia harus bertingkah

Seperti kebiasaan masyarakat kita pada umumnya, membangunkan sahur melalui pengeras suara saat bulan ramadan. Layaknya genderang perang, suara para warga yang berasal dari segala penjuru masjid terdengar malalui aliran gelombang suara di pengeras suara.

Sahur!! Sahur Sahurr. Kaum muslimin bangun sahur

Sebenarnya tanpa perlu dibangunkan melalui pengadaan suara, aku juga akan bangun. Layaknya sebuah mesin yang diatur jadwalnya. Aku sudah terbiasa bangun saat pukul 03:00 pagi. Bahkan, bukan pada saat bulan ramadan saja. Sebuah kebiasaan yang seharusnya aku syukuri. dengan bangun lebih awal, tentunya akan sangat banyak waktu untuk melakukan aktivitas, akan ada banyak sekali waktu untuk belajar, akan sangat banyak waktu untuk mempersiapkan segala aktivitas di pagi hari. Bahkan kata orang “Membangun harapan di hari yang lebih awal adalah hal Yang baik”.

Sayangnya aku lebih sering menghabiskan waktu itu untuk bermain game atau jika sedang malas-malasnya, aku bisa menonton film kesukaanku sembari menunggu waktu subuh. Bahkan sudah hampir waktu ramadan tiba di penghujung bukanya semakin giat, aku malah merasa semakin malas.

Kali ini aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa, waktu subuh masih dua jam lagi, masih banyak kesempatan. ingin menonton film, tapi film apa? akhirnya ada inisiatif yang muncul

Bagaimana kalau buat instastory saja

Segera kubuka aplikasi instagram, lalu membuka fitur instastory, mengetik kata-kata bijak.

“KUY GUYS, RAMADAN SEBENTAR LAGI BERLALU. MARI TETAP SEMANGAT”

sebuah kata yang seharusnya untuk diri sendiri, malah sok-sok ngajak orang lain. Tapi siapa yang peduli?, siapa yang tahu? bahwa diri ini sedang malas. Tentunya tujuanya selain berbagi informasi, hanya sebagai ajang pamer saja.

Lalu setelah membuat instatory, aku mencoba melihat lihat beberapa postingan pamer lainya di instagram. Media sosial memang sudah berubah, Instagram contohnya. Pada awalnya instagram dibuat sebagai sarana berbagi, berbagai informasi supaya pengetahuan tidak berpusat pada satu semesta saja, namun seiring perkembangan zaman, manusia terkadang berevolusi bukan saja dari bentuk dan pemikiran tapi minat juga. Akhirnya mengikuti perjalan dunia, maka mereka melakukan penambahan berbagai macam fitur serta efek. Instagram kini menjadi ajang pamer, namun sekali lagi. Siapa yang peduli. Lagipula sudah banyak orang-orang seolah-olah nampak bahagia di instagram, namun di kehidupanya meraka amat begitu menderita. Mereka butuh pengakuan dan sayangnya mereka tidak mendapatkannya di dunia nyata. Karena bagi mereka dunia nyata amatlah kejam, kebanyakan mereka menilai bukan dari tindakan, tapi dari siapa kita. Maka instagram ada tempat pelarian terbaik. Sekali lagi, siapa yang peduli? di instagram mereka akan bertemu lebih banyak orang, tanpa perlu mengenal lebih dalam, asalkan postingan kita sejalan dengan pemikiran mereka. Maka engkau akan menjadi idola.

Aku masih saja betah pada pembaringan, sembari menggulir-gulir lini masa instagram, akhirnya jariku berhenti pada sebuah foto. Aku tersenyum melihat foto yang satu ini. Terlihat seorang gadis yang difoto melalui sisi kanan, tertunduk sembari sedikit tersenyum berlatar langit kebiruan dan beberapa pohon sawo.

“Ehh dia Nge-upload”

Gadis ini. Hampir seluruh sosial media kami berteman, bahkan aku mengenalnya tidak sebatas di sosial media saja. Kami seringkali bertemu di beberapa acara kepenulisan.

Sebenernya aku jatuh hati pada gadis ini. Lagipula siapa yang tidak jatuh hati padanya? dia cantik. Tapi tentunya itu bukan faktor utama semata. Melalui media sosial, ia seringkali membagikan nasehat-nasehat kehidupan. Terkadang dia mengingatkan untuk tidak meninggalkan shalat.

Suaranya? wahhh jangan ditanya, walau kadang dia mengunggah video ditambah sticker menutupi wajah. Jujur saja aku kurang mengerti mengapa begitu banyak wanita ketika mengunggah video, kebanyakan selalu memakai Sticker untuk menutupi wajahnya. Tidak mau dilihat sama yang bukan haknya kah? atau hanya sebatas menambah “keimuta-imutan” semata. Walau begitu, tetaplah aku dapat membayangkan wajahnya sembari mendengarkan lantunannya pada alquran yang teramat merdu.

Kesimpulannya bagiku dia adalah sosok wanita sempurna untuk dijadikan seorang istri.

Seringkali aku bayangkan kehidupan pernikahan, bersamanya.

Ia duduk di sebelahku, lalu ia membaca alqur’an, mendengarkan suara merdunya melantunkan ayat-ayat suci itu saat malam hari. Tentunya adalah sebuah kebahagiaan sendiri. Suami mana Yang tidak bangga, memiliki istri yang bacaanya bagus dan suaranya merdu seperti dia.

Membangunkan aku saat sepertiga malam sembari berbisik manis ditelingku.

“Abi, bi, ayo bangun. Ayo kita shalat lail bareng. Kita sama sama mengejar pahala Allah. Kita jama’ah, habis itu kita sahur bareng. Ini hari Senin“.

Membayangkan betapa taat nya dia padaku, pada suaminya. Mengharapkan dia menjadi pendengar setia, kawan sehidup semati. Lalu saat aku menasehatinya ia akan selalu berkata

Demi Allah sang pemilik jiwa, aku akan selalu bersamamu wahai suamiku di saat susah dan senang, aku akan selalu mentaatimu jika selama jika hal itu, berada di jalan Allah

Membayangkan betapa dia menjaga pandangannya dari apa apa yang Tidak boleh ia lihat sebagai Seorang Istri, menjaga wibawaku sebagai suaminya.

Namun sayangnya aku lupa diri.

Asik berkhayal, ia akan duduk bersamaku membaca Alquran. Jangankan bersuara merdu, Pada kenyataannya aku sangat jarang membaca alquran. Hafalanku pun stagnan, sering tidak bertambah dan lebih banyak lupa.

Mengimpikan shalat malam bersamanya? hahaha, aku lupa diri. Walau terbiasa terbangun saat sepertiga malam. Bukalah ibadah yang aku lakukan. Dengan egois, waktu yang seharusnya bagian dari ibadah malah kupakai untuk berselancar di dunia maya. Bermain game online mengejar peringkat yang akan direset setiap season, tak ada habisnya.

Mengimpikan dia taat padaku?
taat pada orang tua saja aku seringkali abaikan, acapkali melanggar aturan kampus, bahkan terkadang aku begitu bodoh sampai aturan agama pun aku langgar. Bagaimana bisa aku Se-nafsu itu membayangkannya.

Berkhayal Ia akan menjaga pandangannya saat menjadi istriku?. Dan nyatanya aku masih senang melihat apa yang bukan hak-ku. Mataku acapkali berkeliaran kepada lawan jenis.

Bagaimana mungkin seorang yang merangkak mengimpikan seseorang yang sedang terbang, bagaimana mungkin api berharap bersatu bersama air. Aku bukan lagi pungguk merindukan bulan, bulan itu sudah menjadi matahari. Amat terang.

Dan ketika kalian membaca tulisan ini, kalian mungkin akan menasehatku. “Maka cobalah berubah, cobalah lebih baik lagi jika ingin mendapatkannya”

Sejujurnya terima kasih aku juga pun berpikir demikian.

Tapi gadis itu seorang manusia, dan pada akhirnya dia juga akan meninggalkanku entah pergi karena ia tidak betah bersamaku atau waktunya menjemput ajalnya. Bagaimana mungkin aku berubah untuk sesuatu yang tidak kekal.

Seharusnya mengedepankan berubah karena sang pencipta rasa, bukan malah berubah karena seorang gadis.

Dasar aku, mengapa baru sekarang sadarnya? bukankah masalah jodoh adalah hal Yang sepele, tidak kekal, tidak sempurna. Lebih baik berubah karena yang maha sempurna.

Ahhh aku terlalu banyak berkhayal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *