Wahai Semesta. Kau Membingungkanku

Mungkin dari kita akan tiba dimana kita merasa Bingung. Entahlah itu usia keberapa. Tergantung dalam garis waktu masing-masing. Dan kini saya merasakannya, semesta membuatku kebingungan. Sudah hampir saatnya saya menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Kewajiban tugas akhirpun sudah selesai. Kini Pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orang

 “Setelah Lulus mau ngapain?”

Jujur saja, walau pertanyaan terdengar sederhana. Sesungguhnya ini sangatlah sulit untuk dijawab. Terjebak pada titik bifurkasi, lalu tidak dapat keluar. Dahulu saat masih belia, saya mempuyai cita-cita menjadi fisikawan. Cita-cita itu terus berlanjut hingga sekolah menengah pertama. Lalu saat memasuki masa SMA jalan yang kutempuh tidaklah mengarah ke fisikawan, tidak salah. Hanya berbeda saja. Saat menempuh pendidikan di SMA islam/Madrasah Aliyah impian itupun berubah. Aku ingin menjadi pengajar, begitulah kira-kira harapanku dahulu. Lalu memasuki masa-masa kampus lagi lagi harapan itu berubah. Pada akhirnya sudah saatnya masa kampus selesai hanya kebingungan yang berkumpul.

Kampus saya mempunyai sistem “pengabdian” dimana setelah lulus kami diwajibkan untuk melakukan tugas mulia ke daerah-daerah di Indonesia. Terkadang ada yang ditempatkan dipusat keramaian atau ada juga dihutan antah berantah. Tugas ini tentunya sangat mulia, tapi apakah saya bisa melaksanakan kewajiban itu?. Sedangkan di dalam diri saja tidak tahu mau bagaimana dan diapakan hidup ini di depan nanti.

Kata “Jalani saja” tidaklah muda dilakukan. Tentu jika hanya berdoa saja, saya gagal mengimplementasikan kisah perang Badar dikehidupan saya. Ahh Sifat pesimis ini memang sangat me

KISAH PERANG BADAR YANG JARANG DIKISAHKAN

Saya bisa saja tidak mengambil langkah pengabdian, jika saya memenuhi syarat dari kampus saya. Tapi. Saya bahkan lebih ragu jika saya keluar dari zona saya saat ini. Apakah saya bisa bertahan?, dengan kadar keilmuan saya saat ini.

Terlalu kontradiktif memang mengakui bahwa usia saya sudah menginjak angka dewasa tapi merasa mental dan sifat saya masih kekanak – kanakan. Berada di masa transisi ini membuat saya banyak berpikir dan sharing dengan banyak orang tentang kegelisahan akan masa depan. Mencari pembenaran hidup dengan berpikir apa yang saya lakukan selama ini benar atau salah untuk diri sendiri atau orang lain di sekitar. Mulai merasa berbeda dalam berbagai aspek kehidupan dari sebelumnya membuat sadar bahwa saya sudah memasuki fase dewasa muda.

Menginjak dewasa seseorang akan merasa keterasingan sosial. Suatu ketika saya membuka instagram story teman dengan mengemukakan kegelisahan yang dituliskan “Pada akhirnya ‘seleksi alam’ akan membawa kita bertemu teman – teman yang sefrekuensi. Semakin dewasa, circle pertemananku semakin mengecil dan itu merupakan hal positif.” Tersadar saya juga merasakan hal yang sama, dimana teman – teman yang dulu sering bersama perlahan mulai hilang dengan tujuan hidupnya masing – masing. Pada fase ini saya juga merasa lebih selektif dalam memilih pergaulan.  Perlahan mulai harus mengerti tujuan hidup dari masing – masing teman dekat agar silaturahmi tetap terjalin. Teman saya menuliskan lanjutan dari instagram story sebelumnya “Lingkar kenalan ku perlebar, lingkar pertemanan ku persempit.” Mungkin itu salah satu cara dia untuk mendewasakan diri dari lingkungan sosialnya.

Pada fase ini idealisme saya semakin berkurang. Kadang merasa ingin keluar atau malah menetap di zona nyaman. Kegelisahan mulai muncul hingga akhirnya kata hati yang berbicara. Mau dibawa kemana dan jadi seperti apa hidup ini? Akhirnya saya berkata “Ah, sudahlah pikirkan nanti saja.”. Rangkaian rencana yang dulu sudah dibuat akhirnya mulai dipertimbangkan. Mulai harus tegas memilih jalan hidup,tapi justru malah kebingungan yang muncul.    

Kegelisahan yang paling klimaks pada fase ini adalah ketika kita berbicara tentang masa depan. Seseorang yang saya tanyakan rata – rata masih bingung tentang tujuan hidupnya. Jujur saja saya juga masih bingung mau jadi seperti apa kedepannya.  Jurusan kuliah yang jauh dari passion membuat saya terus mencari potensi diri. Ya, dewasa muda yang saya rasakan adalah fase dimana kita akan sering bergonta – ganti kegiatan hingga menemukan kecocokan dalam diri. Implementasinya seperti mencari jodoh, tak jarang seseorang yang tidak menyukai sesuatu akan lari dan mencari apa yang mereka sukai. Tapi tak apalah jalan hidup tak sesuai rencana, memiliki ketertarikan di lain disiplin ilmu membuat kita merasa mempunyai nilai plus. Toh, kata orang tidak ada yang sia – sia di dunia ini. Sekarang saya mulai pusing menulis ini semua. Mulai timbul pertanyaan yang tidak bisa dijawab dari pikiran saya, mulai dari “Besok mau jadi apa ya?”, “Mau menikah umur berapa ya?”, “Besok mau memilih untuk tinggal dimana ya?”  dan lain sebagainya. Dalam hati mulai berkata “Capek juga ya menjadi orang dewasa, harus terus berpikiran positif agar diri ini tidak stress.” Mungkin kata orang saya sedang mencari jati diri yang termasuk dalam fase dewasa muda.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *